Recents in Beach

PROTAGORAS

Protagoras berasal dari Abdera. Ia hidup dari tahun 481 411 s.M. Bila ia datang ke Atena tidak diketahui benar. Yang orang. tahu hanya bahwa ajarannya laku benar setahun dua, pada tahun 444- 443. Caranya bersoal me- nunjukkan, bahwa ia dahulu ada berguru kepada Herak leitos. Semboyan Herakleitos "panta rei", semuanya berlalu, sering pula dipakainya, tetapi ditujukannya kepada 481 manusia yang meninjau pengetahuan.

Bagi Protagorasmanusia itu adalah ukuran bagi segalanya, bagi yang ada karena adanya, bagi yang tidak ada karena tidaknya. Maksudnya bahwà semuanya itu harus ditinjau dari pendirian manusia sendiri-sendirinya. Kebenaran umum tidak ada. Pendapatku adalah hasil pandanganku sendiri. Apa ia juga benar bagi orang lain, sukar mengatakannya, boleh jadi tidak. Apa yang kukatakan baik, boleh jadi jahat bagi orang lain; apa yang kukatakan bagus, boleh jadi buruk dalam pandangannya. Alamku adalah bagiku sendiri. Orang lain mempunyai alamnya sendiri pula.

Pandangan berubah-ubah menurut yang dipandang. Yang benar sekarang, beresok barangkali tidak lagi. Bukan kejadian di dunia saja berlalu dan bergerak senantiasa, tetapi juga pandangan manusia. Dan bukan barang yang senantiasa, dipandang itu saja bergerak, juga pancaindera yang memandang. Sebab itu tiap-tiap pemandangan bergantung kepada dua macam gerakan. Mencari pengetahuan memandang, sekalipun memandang dari dalam pengetahuan juga dengan jiwa, dengan pikiran. Sebagaimana pandangan mata berdasar kepada dua macam gerakan, demikian juga pan- dangan pikiran.

Kalau tiap-tiap pandangan itu berdasar kepada dua macam gerakan yang bertentangan jalannya, maka barang yang di-pandang itu lain daripada subyek (manusia) yang memandang dan lain pula daripada obyek (barang) yang dirupakan oleh pandangan itu. Wajah yang terlukis dalam pandangan kita tidak sama dengan barang yang dipandang. Barang yang terpandang berlainan dengan barang yang di-pandang! Sungguhpun hasil dangan itu ditentukan oleh kedua-duanya, oleh barang yang dipandang dan oleh orang yang memandang, wajah yang terpandang berlainan daripada keduanya. Sebabnya karena gerakan yang bertentangan tadi. Sebab itu pula tiap-tiap pandangan bersifat subyektif. Pemandangan seseorang berlainan daripada pandangan orang lain. Sebab itu pemandangannya itu benar bagi dia sendiri. Demi kian juga pengetahuan tentang sesuatunya. Sifatnya subyektif.

Sebagai kelanjutan pendiriannya itu Protagoras ngatakan, bahwa pandangan itu betul memuat penge- tahuan yang cukup tentarig barang yang ter-pandang, tetapi bukan pengetahuan tentang barang itu sendiri. Oleh karena itu manusia tidak mengetahui keadaan barang itu sebagaimana keadaannya yang sebenarnya, melainkan sebagai rupa pandangannya saja. Dan rupa barang itu sebagai yang tampak dalam pandangannya itu adalah bagi dia sendiri. Bagi orang lain tidak begitu. Oleh karena itu segala pemandangan bersifat relatif, sementara.

Kebulatan pendirian Protagoras ialah bahwa tiap-tiap buah pikiran yang lahir dari pemandangan adalah benar, tetapi sekira-kiranya juga tidak. la hanya benar bagi orang orang yang memandang, dan benar hanya pada waktu memandang itu saja. la bukan kebenaran umum, yang benar bagi segala orang dan bagi setiap waktu. Sebab itu segala pengetahuan manusia tak ada mengandung kebenaran umum. Segala pengetahuan sifatnya relatif. Oleh karena kebenaran sifatnya relatif, tak ada buah pikiran yang benar semata-mata. Dan oleh karena itu segala pen- dirian yang bertentangan adalah sama-sama kuat.

Apabila segala pendirian lahirnya sama-sama kuat, tinggal lagi muslihat untuk mengusahakan, supaya pen dirian kita sendiri lebih kuat tampaknya terhadap pendirian 1ain. Muslihat itu ialah retorika. Cerdik, tangkas dan lucu dalam bicara adalah jalan membenarkan pendirian sendiri kepada orang banyak.

Retorika puncak dan penutup segala ujian kepandaian sofistik. Apa juga dalil yang dikemukakan untuk membenarkan sesuatunya, dalil itu hanya kuat dengan retorika, tidak karena pokoknya.

Tentang dewa-dewa yang dihormati orang Grik di kuat, waktu itu Protagoras berkata, bahwa ia tak tahu ada atau tidak. Banyak sekali halangan untuk Fasal itu gelap, sedangkan umur manusia amat pendek.

Keterangannya tentang dewa-dewa itu jadi sebab ia kemudian dituntut di muka pengadilan rakyat. la dituduh anti agama. Hal ini terjadi pada tahun 411 sebelum Masehi, tatkala kaum kuno mendapat kekuasaan di Atena. Protagoras yang sudah berusia 70 tahun lari ke Sisilia, dan tak lama sesudah itu 1a meninggal. Tetapi segala mengetahuinya. buku-bukunya tentang dewa-dewa dibakar orang di tengah pasar.

Posting Komentar

0 Komentar